Fiqih Puasa

Kali ini kita akan membahas fiqih dalam puasa.

Keutamaan Puasa

Puasa adalah ibadah yang tidak ada tandingannya

“hendaknya engkau berpuasa karena puasa itu ibadah yang tidak ada tandingannya” (HR. Ahmad, An Nasa-i. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

Allah Ta’ala menyandarkan puasa kepada diri-Nya

“Allah ‘azza wa jalla berfirman: setiap amalan manusia itu bagi dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalas pahalanya” (HR. Bukhari – Muslim).

Puasa menggabungkan 3 jenis kesabaran

Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi hal yang dilarang Allah dan sabar terhadap takdir Allah atas rasa lapar dan kesulitan yang ia rasakan selama puasa.

Puasa akan memberikan syafaat di hari kiamat

“Puasa dan Al Qur’an, keduanya akan memberi syafaat kelak di hari kiamat” (HR. Ahmad, Thabrani, Al Hakim. Al Haitsami mengatakan: “semua perawinya dijadikan hujjah dalam Ash Shahih“).

Orang yang berpuasa akan diganjar dengan ampunan dan pahala yang besar

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Ahzab: 35).

Puasa adalah sebab masuk ke dalam surga

“di surga ada delapan pintu, diantaranya ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan. Tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari).

Hikmah disyariatkannya puasa

Apa saja sih hikmah disyariatkannya berpuasa di bulan ramadhan?

 

Puasa adalah wasilah untuk mengokohkan ketaqwaan kepada Allah

 

Mendidik mengendalikan keinginan dan sabar dalam menahan diri

 

Puasa menimbulkan rasa iba dan sayang kepada kaum miskin

Syarat sah puasa :

1. Islam

2. Baliqh

3. Berakal

4. Muqim (tidak sedang safar)

5. Suci dari haid dan nifas

6. Mampu berpuasa

7. Niat

Jadi taukan syaratnya?

Image

Aturan dalam berpuasa :

Hukum-hukum dalam melaksanakan puasa ramadhan

Sunnah-sunnah terkait berbuka puasa:

Disunnahkan menyegerakan berbuka

Berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab (kurma segar)

Berdoa ketika berbuka

Sunnah-sunnah terkait makan sahur:

Makan sahur hukumnya sunnah muakkadah

Disunnahkan mengakhirkan makan sahur mendekati waktu terbitnya fajar

Disunnahkan makan sahur dengan tamr (kurma kering)

Orang yang berpuasa wajib meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan agama dan dianjurkan untuk memperbanyak melakukan ketaatan seperti: bersedekah, membaca Al Qur’an, shalat sunnah, berdzikir, membantu orang lain, i’tikaf, menuntut ilmu agama, dll

Membaca Al Qur’an adalah amalan yang lebih dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan. Bahkan sebagian salaf tidak mengajarkan ilmu di bulan Ramadhan agar bisa fokus memperbanyak membaca Al Qur’an dan mentadabburinya

Berikut adalah orang-orang yang diperbolehkan tidak berpuasa.

Orang sakit yang bisa membahayakan dirinya jika berpuasa

Musafir

Orang yang sudah tua renta

Wanita hamil dan menyusui

Orang yang memiliki sebab-sebab yang membolehkan tidak berpuasa secara syar'i

Terlalu dalam dan berlebihan dalam berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung).

Puasa wishal, yaitu menyambung puasa selama dua hari tanpa diselingi makan atau minum sama sekali.

Menyicipi makanan tanpa ada kebutuhan, walaupun tidak masuk ke kerongkongan.

Bermalas-malasan dan terlalu banyak tidur tanpa ada kebutuhan.

Berlebihan dan menghabiskan waktu dalam perkara mubah yang tidak bermanfaat.

Tanda-tanda Lailatul Qadar diantaranya :
-> Matahari di pagi harinya tidak terlalu terang seperti biasanya

-> Malam itu cerah dan udara terasa sedang, tidak panas dan tidak pula dingin.“Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak kemerahan redup.” (HR. ibnu Khuzaimah dan Ath-Thayalisi)

-> Tidak ada bintang jatuh (meteor) Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak pula dingin, dan tidak ada bintang yang jatuh (meteor).” (HR. Ath-Thabrani)”